AngkasaOnline.com, Saling serang antara militer Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terjadi. AS melancarkan serangan baru ke sejumlah target di Iran, yang dibalas Teheran dengan ancaman ‘tanggapan yang menghancurkan’ jika agresi berlanjut. Iran juga menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, memicu kecaman dari kedua negara Teluk tersebut.
Dirangkum AngkasaOnline.com dari AFP, CNN, dan Aljazeera pada Senin (29/6/2026), eskalasi ini terjadi setelah AS menargetkan sejumlah titik di Iran sebagai respons atas serangan Teheran ke kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kedua pihak saling tuduh melanggar gencatan senjata yang rapuh, memperketat negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
AS Serang Sejumlah Titik di Iran
Militer AS diketahui melakukan serangan baru terhadap beberapa target di Iran. Serangan ini merupakan tanggapan atas agresi baru Iran terhadap sebuah kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Pasukan CENTCOM melancarkan serangan hari ini sebagai tanggapan langsung terhadap agresi Iran yang berkelanjutan terhadap pelayaran komersial," kata Komando Pusat AS. Sebelumnya, Iran disebut menyerang kapal tanker minyak berbendera Panama, Kiku, yang membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah.
Komando tersebut juga memposting video buram berdurasi 35 detik di akun X-nya, menunjukkan ledakan di berbagai lanskap. "Pesawat tempur Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS melakukan serangan malam ini terhadap 10 target militer Iran di beberapa lokasi di dalam dan dekat Selat Hormuz sebagai tanggapan atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker Kiku," demikian bunyi unggahan tersebut.
Militer AS menyebut respons terbaru ini menargetkan "infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau."
Iran Serang Fasilitas Militer AS di Bahrain-Kuwait
Merespons serangan terbaru AS tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan ini merupakan balasan atas serangan AS di wilayah Iran.
IRGC memperingatkan bahwa agresi lebih lanjut akan dibalas dengan ‘tanggapan yang menghancurkan’. Dilansir AFP, Minggu (28/6/2026), IRGC menyatakan, "Garda Revolusi menghancurkan delapan fasilitas militer AS yang penting di pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan di pangkalan angkatan laut Armada Kelima di Pelabuhan Salman di Bahrain."
"Setiap agresi musuh, apa pun dalihnya, bahkan terhadap target yang tidak signifikan… akan dibalas dengan menghancurkan," imbuh pernyataan Garda Revolusi.
Bahrain dan Kuwait Kutuk Serangan Iran
Kementerian Luar Negeri Bahrain mengecam keras serangan rudal balistik dan drone terbaru Iran. Bahrain menilai serangan tersebut melanggar kedaulatan negara.
Dilansir Aljazeera, Minggu (28/6/2026), dalam pernyataan yang dimuat Kantor Berita Bahrain, Kementerian Luar Negeri Bahrain mengatakan serangan tersebut juga merusak "peluang untuk de-eskalasi dan stabilitas di kawasan tersebut." Bahrain menyerukan Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat untuk membahas situasi tersebut, berharap "mengakhiri agresi yang sedang berlangsung dan meminta pertanggungjawangan para pelakunya." Bahrain menegaskan pihaknya berhak mempertahankan kedaulatan.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kuwait turut mengecam serangan baru Iran di wilayahnya. Kuwait menilai serangan itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatannya.
"Menyampaikan kecaman dan penolakan keras terhadap… terulangnya agresi keji Iran terhadap Negara Kuwait, yang terbaru terjadi pada subuh hari ini, sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatannya," kata Kementerian Luar Negeri Kuwait dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Minggu (28/6/2026). Kementerian tersebut memperingatkan bahwa serangan semacam itu merusak upaya de-eskalasi regional dan global. Kuwait menegaskan negaranya "berhak sepenuhnya untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menjaga kedaulatannya."
Iran Geram soal Serangan Baru AS
Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk tegas serangan terbaru AS di pantai selatan negaranya. Iran menyebut serangan itu sebagai "serangan brutal" yang melanggar gencatan senjata dalam MoU.
Dilansir Aljazeera dan CNN, Minggu (28/6/2026), Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan serangan tersebut menunjukkan bahwa AS "sama sekali tidak menghargai komitmennya." Iran menambahkan, "melanggar janji adalah bagian dari sifat rezim ini."
Menlu Iran Beri Peringatan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa setiap upaya mengubah atau mengadopsi aturan baru terkait Selat Hormuz selain yang telah disepakati Iran akan meningkatkan ketegangan. Menurut Iran, setiap upaya tersebut akan menimbulkan penundaan pembukaan Selat Hormuz.
"Setiap upaya untuk mengadopsi pengaturan baru atau terpisah dibandingkan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Republik Islam Iran, hanya akan menyebabkan situasi yang lebih rumit dan penundaan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz, dan akan meningkatkan ketegangan, seperti yang kita saksikan dalam dua malam terakhir," kata Araghchi dalam konferensi pers, dilansir AFP, Minggu (28/6/2026).
Hal itu disampaikan Araghchi saat melakukan kunjungan ke ibu kota Irak, Baghdad. Araghchi juga menyerukan pembentukan kerangka kerja keamanan dengan negara-negara Teluk. "Kita harus mencapai kerangka kerja baru yang mencakup semua negara di kawasan ini dan tanpa kehadiran atau campur tangan negara mana pun dari luar kawasan," kata Abbas Araghchi dilansir Aljazeera.
Sementara itu, sejumlah kapal terus menggunakan jalur yang tidak disetujui Iran di jalur perairan strategis tersebut, menurut platform pelacak pada hari Jumat. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan sehari sebelumnya bahwa Oman dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengumumkan koridor baru tersebut tanpa berkonsultasi dengan Teheran, dan memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakannya.