AngkasaOnline.com, Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) akan merevitalisasi 114 sekolah terdampak bencana di Aceh. Program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026 ini dimulai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) pada Kamis (29/1) di Banda Aceh, sebagai langkah cepat pemulihan pendidikan.
Penandatanganan PKS dilakukan oleh perwakilan seluruh sekolah terdampak bencana. Acara tersebut disaksikan secara simbolik oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK, Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, serta Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh.
Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK, Tatang Muttaqin, penandatanganan PKS menjadi langkah nyata rekonstruksi dan pemulihan pendidikan di Aceh. Pemerintah berkomitmen kuat memulihkan pendidikan di Aceh dan daerah terdampak bencana lainnya demi hak anak atas pendidikan.
"Apa yang telah ditandatangani hari ini adalah dokumen awal kebahagiaan bagi orang-orang sekitar kita, para siswa, orang tua, dan seluruh warga sekolah di tempat Bapak Ibu untuk mengembalikan kondisi sekolah yang insyaallah lebih nyaman dan tentunya aman bagi seluruh warga sekolah," kata Tatang dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).
Tatang berharap dana bantuan segera cair setelah penandatanganan PKS agar bisa langsung dieksekusi. Dia menargetkan anak-anak dapat belajar di sekolah baru yang nyaman dan aman pada awal tahun ajaran baru.
Diketahui, dari 114 sekolah yang direvitalisasi, semuanya berada di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK. Sekolah-sekolah tersebut terdiri atas 99 SMK, 13 SLB, serta 2 PKBM, dengan tingkat kerusakan mulai ringan hingga rusak berat akibat bencana.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Dahlawi, menyampaikan program ini membawa harapan baru bagi pendidikan di Aceh. Menurutnya, hampir separuh SMK dan SLB di Aceh rusak terdampak bencana.
"Revitalisasi ini membawa harapan baru bagi pendidikan Aceh. Dengan program Revitalisasi, kami berharap pendidikan di Aceh segera pulih dan pendidikan di Aceh ke depannya akan sama dengan daerah lainya," ujar Dahlawi.
Sementara itu, Kepala SMK Ummul Ayman 2, Kabupaten Pidie Jaya, Faisal, mengaku sekolahnya menjadi salah satu penerima revitalisasi. Seluruh ruang kelas dan ruang praktik siswa rusak akibat bencana, sehingga kegiatan belajar mengajar dilakukan di kelas darurat.
"Dengan revitalisasi ini kami berharap unit kelas baru bisa cepat terbangun dan siswa dapat belajar kembali dalam kondisi yang lebih nyaman," katanya.
Seorang murid kelas 11 SMK Ummul Ayman 2, Alfrizi Maulana, turut merindukan ruang belajar yang nyaman. Ia tidak bisa melakukan pembelajaran praktik karena area praktikum seperti kolam ikan dan bioflok rusak akibat banjir.
"Semoga unit kelas baru bisa segera dibangun dan kami bisa belajar kembali di ruang kelas yang nyaman dengan meja dan kursi," harap Alfrizi.
Di sisi lain, Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, Suprananta, menyambut baik PKS ini bagi 260 muridnya. Sekolahnya yang rusak parah masih menggunakan kelas darurat.
"Dengan PKS ini kami insyaallah bisa membangun kembali sekolah kami yang rusak parah karena bencana," tutup Suprananta.
(ega/ega)