Bipolar atau Depresi? ...

Bipolar atau Depresi? Kenali Perbedaannya Sebelum Salah Obat

Ukuran Teks:

Sulit bangun pagi, kehilangan minat, dan merasa hidup tidak berarti sering dikaitkan dengan depresi. Namun, keluhan tersebut juga bisa muncul pada fase depresi dalam gangguan bipolar. Karena gejalanya dapat sangat mirip, perbedaannya tidak selalu terlihat dari kondisi seseorang saat ini.

Pertanyaan bipolar atau depresi penting dibahas sebelum menentukan pengobatan. Meski demikian, tujuannya bukan untuk mendiagnosis diri sendiri atau takut minum obat, melainkan memahami mengapa dokter perlu menanyakan perjalanan suasana hati sepanjang hidup.

Perbedaan Utama: Ada Tidaknya Mania atau Hipomania

Dalam pembahasan ini, depresi merujuk pada gangguan depresi mayor atau depresi unipolar, yaitu gangguan dengan episode depresi tanpa riwayat mania atau hipomania. Sementara itu, gangguan bipolar melibatkan episode mania atau hipomania, dan dapat disertai episode depresi.

Gangguan bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati dari senang menjadi sedih dalam hitungan menit. Episode biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga berminggu-minggu atau lebih, disertai perubahan nyata pada energi, aktivitas, tidur, dan fungsi sehari-hari. Di antara episode, seseorang dapat mengalami periode suasana hati yang stabil.

Mengapa Fase Depresinya Sulit Dibedakan?

Baik pada depresi unipolar maupun depresi bipolar, seseorang dapat mengalami:

  • Perasaan sedih, hampa, atau kehilangan harapan.
  • Kehilangan minat atau kesenangan pada kegiatan yang biasanya disukai.
  • Perubahan tidur dan nafsu makan.
  • Kelelahan, sulit berkonsentrasi, atau sulit mengambil keputusan.
  • Perasaan tidak berharga atau bersalah berlebihan.
  • Pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

Episode depresi mayor berlangsung setidaknya dua minggu dan menimbulkan penderitaan atau gangguan fungsi yang bermakna. Namun, gejala depresi saja tidak cukup untuk memastikan apakah seseorang mengalami depresi unipolar atau bipolar. Riwayat episode sebelumnya menjadi bagian penting dalam penilaian.

Kenali Mania dan Hipomania yang Sering Terlewat

Mania: bukan sekadar sangat bahagia

Mania merupakan periode suasana hati yang sangat meningkat, ekspansif, atau mudah tersinggung, disertai peningkatan energi dan aktivitas yang tidak biasa. Tandanya dapat meliputi:

  • Kebutuhan tidur berkurang, misalnya tidur sangat sedikit tetapi tetap merasa bertenaga.
  • Bicara jauh lebih banyak atau cepat, dengan pikiran terasa berpacu.
  • Kepercayaan diri meningkat secara tidak realistis.
  • Perhatian mudah teralihkan dan banyak memulai kegiatan sekaligus.
  • Perilaku berisiko, seperti belanja besar-besaran atau mengambil keputusan impulsif.

Mania umumnya berlangsung setidaknya satu minggu, atau lebih singkat bila keparahannya memerlukan rawat inap. Episode ini menyebabkan gangguan fungsi berat dan dapat disertai psikosis, seperti waham atau halusinasi. Riwayat setidaknya satu episode mania menjadi ciri utama bipolar tipe I; episode depresi tidak wajib ada untuk diagnosisnya.

Hipomania: tampak produktif, tetapi berbeda dari kondisi biasa

Hipomania memiliki pola gejala serupa, tetapi tidak menyebabkan gangguan fungsi berat, tidak memerlukan rawat inap karena episode tersebut, dan tidak disertai psikosis. Dalam kriteria diagnostik yang umum digunakan, hipomania berlangsung setidaknya empat hari berturut-turut.

Orang di sekitarnya mungkin melihat perubahan jelas, tetapi orang yang mengalaminya justru merasa sedang sangat produktif. Karena itu, hipomania sering tidak diceritakan saat konsultasi. Bipolar tipe II melibatkan riwayat hipomania dan episode depresi mayor, tanpa episode mania. Sebutan tipe II tidak berarti penyakitnya selalu lebih ringan.

Mengapa Pembedaan Ini Memengaruhi Pilihan Obat?

Depresi unipolar dapat ditangani dengan psikoterapi, antidepresan, atau kombinasi keduanya, sesuai tingkat keparahan dan kebutuhan pasien. Pada gangguan bipolar, pengobatan biasanya melibatkan obat penstabil suasana hati dan/atau antipsikotik tertentu, disertai dukungan psikososial. Pilihannya bergantung pada fase penyakit, kondisi kesehatan, dan respons sebelumnya.

Pada bipolar tipe I, antidepresan tidak digunakan sebagai terapi tunggal. Pada sebagian orang dengan bipolar, antidepresan dapat memicu peralihan ke mania atau hipomania, atau memperburuk ketidakstabilan suasana hati. Risikonya tidak sama pada setiap orang maupun setiap obat.

Ini bukan berarti semua antidepresan selalu berbahaya bagi setiap pasien bipolar. Dalam keadaan tertentu, psikiater dapat mempertimbangkannya secara selektif dengan pemantauan ketat, biasanya bersama obat lain. Tidak ada satu obat yang otomatis tepat untuk semua pasien.

Jika setelah memulai atau menaikkan dosis obat Anda menjadi sangat aktif, jauh lebih impulsif, atau hampir tidak membutuhkan tidur, segera hubungi dokter. Jangan menghentikan atau mengubah dosis sendiri, karena penghentian mendadak juga dapat menimbulkan masalah.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Psikiater menilai pola gejala, durasi, dampaknya terhadap kehidupan, dan riwayat sepanjang hidup. Riwayat keluarga dengan bipolar, episode depresi berulang, serta perubahan aktivitas setelah penggunaan obat merupakan petunjuk yang perlu dibahas, tetapi bukan bukti diagnosis secara otomatis.

Dokter juga meninjau penggunaan alkohol, zat lain, obat tertentu, dan kondisi medis seperti gangguan tiroid yang dapat menyerupai gangguan suasana hati. Tidak ada satu tes darah atau kuis daring yang dapat memastikan bipolar. Pemeriksaan tambahan digunakan bila diperlukan untuk menilai kemungkinan penyebab lain.

Persiapkan Konsultasi agar Lebih Akurat

  1. Catat pola tidur dan suasana hati. Sertakan perubahan energi, aktivitas, dan perilaku, bukan hanya rasa sedih.
  2. Ingat periode yang terasa sangat berbeda. Misalnya beberapa hari tidur sedikit tanpa lelah, bicara lebih cepat, atau belanja tidak terkendali.
  3. Bawa daftar obat dan zat yang digunakan. Jelaskan kapan gejala muncul dibandingkan waktu memulai atau mengganti obat.
  4. Libatkan orang tepercaya bila Anda setuju. Pengamatan keluarga atau pasangan dapat membantu mengenali perubahan yang sulit disadari sendiri.

Kapan Perlu Pertolongan Segera?

Jika muncul dorongan menyakiti diri, rencana bunuh diri, halusinasi, atau perilaku berisiko yang sulit dikendalikan, segera cari bantuan di IGD atau layanan darurat setempat. Mintalah orang tepercaya menemani dan membantu menjaga keselamatan.

Pada akhirnya, membedakan bipolar dan depresi membutuhkan evaluasi profesional, bukan tebakan berdasarkan satu gejala. Dengan riwayat yang lengkap dan pemantauan teratur, penanganan dapat disesuaikan secara lebih aman dan efektif.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan