Jantung tiba-tiba berdebar, dada terasa sesak, lalu muncul ketakutan akan meninggal. Pengalaman seperti ini dapat terjadi saat panic attack atau serangan panik. Karena gejalanya terasa sangat nyata dan intens, banyak orang mengiranya sebagai serangan jantung.
Serangan panik adalah episode ketakutan atau ketidaknyamanan intens yang muncul mendadak dan biasanya mencapai puncak dalam hitungan menit. Kondisi ini bisa terjadi saat stres maupun tanpa pemicu yang jelas. Meski demikian, gejalanya tidak boleh langsung dianggap sebagai kecemasan tanpa mempertimbangkan penyebab medis.
Jika nyeri dada baru muncul, berat, atau disertai sesak napas, pingsan, maupun keringat dingin, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu sampai yakin apakah penyebabnya serangan panik atau serangan jantung.
8 Gejala Panic Attack yang Sering Dikira Serangan Jantung
1. Jantung berdebar kencang
Saat serangan panik, respons tubuh terhadap ancaman mengaktifkan sistem saraf dan meningkatkan pelepasan adrenalin. Akibatnya, detak jantung dapat terasa cepat, kuat, atau seperti melompat. Sensasi ini sering memicu ketakutan tambahan sehingga kepanikan makin meningkat. Namun, jantung berdebar juga dapat terjadi akibat gangguan irama jantung dan kondisi medis lainnya.
2. Nyeri atau rasa tertekan di dada
Ketegangan otot dada dan perubahan pola napas saat panik dapat menimbulkan nyeri, rasa tertusuk, atau dada seperti terikat. Keluhan tersebut dapat menyerupai masalah jantung. Jenis atau lokasi nyeri saja tidak cukup untuk menentukan penyebabnya, sehingga nyeri dada yang baru, berubah, atau belum pernah diperiksa perlu mendapatkan penilaian medis.
3. Sesak napas atau merasa kekurangan udara
Orang yang sedang panik bisa merasa sulit menarik napas dengan lega, meskipun sudah mencoba bernapas lebih cepat. Pernapasan berlebihan atau hiperventilasi justru dapat memperburuk rasa tidak nyaman. Karena sesak juga bisa disebabkan masalah jantung atau paru, jangan menganggapnya sebagai kecemasan semata, terutama bila muncul mendadak atau terasa berat.
4. Keringat dingin
Aktivasi respons darurat tubuh saat panik dapat membuat telapak tangan, wajah, atau seluruh tubuh berkeringat meskipun udara tidak panas. Kulit juga bisa terasa dingin dan lembap. Gejala ini memang bisa menyertai serangan panik, tetapi keringat dingin bersama nyeri dada atau sesak merupakan kombinasi yang perlu diwaspadai.
5. Tubuh gemetar atau menggigil
Peningkatan adrenalin dapat menyebabkan tangan bergetar, kaki terasa goyah, atau tubuh menggigil. Sebagian orang juga merasakan sensasi panas dan dingin bergantian. Walaupun gemetar sering terjadi saat panik, keluhan ini tidak khusus untuk gangguan kecemasan; kondisi seperti gula darah rendah juga dapat menimbulkan gejala serupa.
6. Pusing dan merasa akan pingsan
Perubahan pola pernapasan saat panik dapat memicu kepala terasa ringan, pandangan seperti melayang, atau sensasi hampir pingsan. Ketakutan kehilangan kendali kemudian dapat memperkuat keluhan. Namun, pingsan sungguhan, terutama bersama nyeri dada atau jantung berdebar, tidak boleh dianggap sebagai gejala panik biasa dan membutuhkan pertolongan segera.
7. Mual atau perut terasa tidak nyaman
Respons stres juga memengaruhi saluran pencernaan. Saat serangan panik, perut dapat terasa melilit, mual, atau seperti diaduk. Meski terkesan sebagai gangguan lambung, mual juga dapat menyertai serangan jantung. Waspadai apabila muncul bersamaan dengan rasa tertekan di dada, sesak, keringat dingin, atau kelemahan yang tidak biasa.
8. Kesemutan atau mati rasa
Hiperventilasi dapat menurunkan kadar karbon dioksida dalam darah sehingga menimbulkan kesemutan, terutama di jari tangan, kaki, atau sekitar mulut. Sensasi pada tangan atau lengan ini terkadang menambah kekhawatiran tentang masalah jantung. Namun, mati rasa mendadak pada satu sisi tubuh, wajah mencong, atau gangguan bicara merupakan tanda darurat yang berbeda.
Bisakah Serangan Panik Dibedakan dari Serangan Jantung?
Serangan panik sering disertai ketakutan intens, perasaan kehilangan kendali, atau lingkungan terasa tidak nyata. Gejalanya biasanya memuncak cepat lalu mereda bertahap, meskipun rasa lelah dan cemas dapat bertahan lebih lama.
Namun, tidak ada cara rumahan yang dapat memastikan perbedaannya hanya dari gejala. Serangan jantung tidak selalu menimbulkan nyeri dada hebat dan dapat terjadi saat istirahat. Usia muda, riwayat kecemasan, atau keluhan yang membaik setelah menenangkan diri tidak cukup untuk menyingkirkannya. Dokter mungkin memerlukan pemeriksaan fisik, elektrokardiogram atau EKG, serta tes darah sesuai kondisi.
Kapan Harus Segera ke IGD?
Hubungi 119 atau layanan darurat setempat jika mengalami nyeri dada yang mencurigakan, terutama dengan salah satu tanda berikut:
- Nyeri atau tekanan menjalar ke lengan, rahang, punggung, atau bahu.
- Sesak berat, keringat dingin, pingsan, atau kelemahan mendadak.
- Keluhan menetap, berulang, memburuk, atau berbeda dari episode sebelumnya.
Hentikan aktivitas dan jangan mengemudi sendiri. Tidak semua tanda tersebut harus muncul untuk menandakan kondisi darurat. Riwayat serangan panik juga tidak membuat seseorang kebal terhadap penyakit jantung.
Apa yang Bisa Dilakukan Saat Serangan Panik?
Jika keluhan sejenis sebelumnya sudah dinilai dokter sebagai serangan panik, serta tidak ada gejala baru atau tanda bahaya, langkah berikut dapat membantu:
- Duduk di tempat aman. Longgarkan pakaian yang terasa menekan dan minta seseorang menemani.
- Perlambat napas dengan nyaman. Tarik napas perlahan, lalu embuskan sedikit lebih lama. Hindari napas terlalu dalam atau cepat dan jangan bernapas ke dalam kantong kertas.
- Arahkan perhatian ke sekitar. Rasakan telapak kaki menyentuh lantai dan sebutkan beberapa benda yang terlihat.
- Ingatkan diri bahwa gejala dapat mereda. Namun, jangan memakai teknik relaksasi untuk menunda pemeriksaan bila penyebabnya belum jelas.
Periksakan Jika Keluhan Berulang
Serangan panik berulang, ketakutan menghadapi serangan berikutnya, atau kebiasaan menghindari aktivitas tertentu perlu dibicarakan dengan dokter, psikolog, atau psikiater. Satu episode tidak otomatis berarti gangguan panik. Setelah penyebab medis dinilai, penanganan dapat mencakup terapi perilaku kognitif dan, bila diperlukan, obat sesuai resep. Mengenali gejala membantu, tetapi diagnosis tetap memerlukan penilaian profesional.