AngkasaOnline.com, Mantan pelatih AC Milan, Sergio Conceicao, baru-baru ini buka suara soal beratnya melatih Rossoneri, menyebut ekspektasi tinggi dan ketidakstabilan klub sebagai penyebab utama. Conceicao, yang dipecat Milan pada Mei 2025, menyampaikan pengalamannya tersebut dalam wawancara dengan media La Repubblica.
Sergio Conceicao diketahui mulai menukangi AC Milan pada Desember 2024, menggantikan Paulo Fonseca. Pelatih asal Portugal itu sebelumnya menandatangani kontrak hingga akhir musim 2025/2026.
Awal kepemimpinan Conceicao di Milan terbilang impresif. Ia berhasil membawa Rossoneri menjuarai Piala Super Italia pada Januari 2025.
Namun, perjalanan selanjutnya tidak mulus. Milan kemudian harus takluk di final Coppa Italia 2024/2025. Mereka juga gagal lolos ke kompetisi Eropa setelah hanya finis di posisi kedelapan Serie A.
Menyusul rentetan hasil kurang memuaskan tersebut, Conceicao pun dipecat Milan pada Mei 2025. Pelatih itu mengakui ada ekspektasi besar yang mengiringi saat melatih klub sekaliber Milan.
"Jadi pelatih Milan itu tidak mudah," ujar Conceicao kepada La Repubblica. "Ini adalah tim yang secara historis terbiasa bermain di level tertinggi dan menang di final Liga Champions. Meski demikian itu adalah momen sulit."
Conceicao juga menyoroti tekanan yang sangat tinggi. "Di Milan, setelah kemenangan di Piala Super Italia, imbang melawan Cagliari sudah cukup untuk memunculkan rumor soal siapa yang akan menggantikan saya. Dan tidak ada yang membantahnya," tambahnya.
Lebih lanjut, Conceicao merasa dirinya dan para pemain AC Milan seharusnya mendapatkan perlindungan lebih dari pihak klub.
"Saya sudah di ruang ganti selama 25 tahun dan ketidakstabilan klub juga sampai ke sana," kata pelatih yang kini menangani Al-Ittihad itu. "Tidak mudah untuk main tanpa fans, yang meninggalkan Curva. Dan di era sosial media, apa pun yang dikatakan soal kami juga sampai ke telinga pemain. Kami butuh banyak perlindungan dari klub."