Negosiasi AS-Iran Berj...

Negosiasi AS-Iran Berjalan di Tengah Ketegangan, Rencana Tetap Rahasia

Ukuran Teks:

AngkasaOnline.com, Teheran – Iran dan Amerika Serikat (AS) dikabarkan terlibat negosiasi di tengah hubungan yang memanas. Meskipun demikian, rencana masa depan dari negosiasi tersebut masih dirahasiakan oleh kedua belah pihak. Situasi ini terjadi saat armada besar AS bersiaga di dekat Iran, memicu kekhawatiran konfrontasi langsung.

Dilansir AFP dan Anadolu Agency, Minggu (1/2/2026), pejabat keamanan tertinggi Iran menyatakan kemajuan telah dicapai dalam negosiasi dengan AS. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan, "Bertentangan dengan pemberitaan media yang dibuat-buat, pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berjalan." Sementara itu, Kepala Angkatan Darat Republik Islam memperingatkan AS agar tidak melancarkan serangan militer.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menambahkan, konflik yang lebih luas dipastikan akan merugikan Iran dan AS. Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada Sabtu (31/1), Pezeshkian menegaskan, "Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan, dan sama sekali tidak menginginkan, perang dan sangat yakin bahwa perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan ini."

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump turut mengonfirmasi bahwa negosiasi sedang berjalan. "Mereka sedang bernegosiasi," katanya kepada Fox News. Namun, ia enggan mengungkap apa yang hendak dicapai dari dialog tersebut, seraya menambahkan, "Kita memiliki armada besar yang menuju ke sana."

Trump juga diketahui tidak membagikan rencananya terkait Iran dengan sekutu-sekutu AS di Timur Tengah. Ia hanya menyebut, "Kami tidak bisa memberi tahu mereka rencananya. Rencananya adalah (Iran) sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu, jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi."

Sebelumnya, Trump sempat menyinggung fasilitas nuklir Iran. Ia mengungkit serangan militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. "Terakhir kali mereka bernegosiasi, kami harus menghancurkan nuklir mereka, itu tidak berhasil. Kemudian kami menghancurkannya dengan cara yang berbeda, dan kita akan lihat apa yang terjadi," ujarnya.

Armada AS yang berada di dekat Iran telah meningkatkan kekhawatiran akan konfrontasi langsung. Berdasarkan informasi, Iran telah memperingatkan akan membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan, kapal, dan sekutu AS, terutama Israel, jika terjadi serangan ke negaranya.

Trump meyakini Iran akan membuat kesepakatan mengenai program nuklir dan rudalnya daripada menghadapi aksi militer AS. Sementara itu, Teheran menyatakan siap untuk pembicaraan nuklir, namun tidak untuk rudal dan kemampuan pertahanannya.

Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, secara tegas memperingatkan AS dan Israel untuk tidak melakukan serangan apa pun. Hatami menegaskan pasukan Iran berada dalam ‘kesiapan defensif dan militer penuh’. "Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa ragu itu akan membahayakan keamanannya sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis," kata Hatami, seperti dilaporkan oleh kantor berita resmi IRNA. Ia juga menambahkan bahwa "teknologi dan keahlian nuklir Iran tidak dapat dihilangkan."

Meskipun ketegangan meningkat, otoritas Iran membantah beberapa insiden pada Sabtu (30/1) terkait dengan serangan atau sabotase apa pun. Salah satu insiden tersebut adalah ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan, yang menurut petugas pemadam kebakaran setempat disebabkan oleh kebocoran gas.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan