Masjid Jamik Bengkulu dan Daeng Makull – Opini: Benny Hakim Benardie

Masjid Jamik kota Bengkulu/google/AngkasaOnline.Com
Masjid Jamik kota Bengkulu/google/AngkasaOnline.Com

Orang-orang Bugis berada di Negeri Bengkulu (Bencoolen, Benkoelen) sejak abad ke-17.  Mereka sengaja di datangkan oleh Pemerintah Inggris kala itu sebagai tentara bayaran, sekaligus sebagai peredam konflik antara pemerintah Inggris dengan masyarakat pribumi negeri Bengkulu.

Saat itu harga jual lada lagi jatuh menyedihkan. Kondisi inilah beban Perusahaan East India. Jaminan kerugian tahunan atas kerugian waktu itu  sebesar 100.000 Poundsterling.  Belum lagi hubungan orang Inggris dengan penduduk pribumi selalu sarat ketegangan.

Loading...

Demi kelancaran bisnis mereka, selama puluhan tahun, Inggris harus bergantung pada masyarakat Bugis sebagai tentara bayaran dan menetap di Negeri Bengkulu. Hingga pada suatu waktu, keributan massal tak dapat terelakan lagi di Tahun 1719. Akibat banyak uang hasil bumi tidak dibayar. Benteng Marlborough di obrak-abrik.

Penulis menduga. salah satu keturunan orang bugis tersebut adalah pendiri Surau Gedang atau Surau Bubungan Tinggi yang kini disebut Masjid Jamik. Sosok itu  adalah Daeng Makulle, yang saat itu menjadi Datuk Dagang dari Wilayah Kampung Tengah Padang.  Masjid itu didirikan di persimpangan antara Kampung Tengah Padang- Pramukan (Kini Jalan Suprapto)  dan Jalan Pengantungan- Pintu Batu.

Sunyinya Sebuah Nama  

Masjid kaum tua yang didirikan pertengahan abad ke-18 itu direnovasi oleh Ir Soekarno, saat diasingkan di Bengkulu Tahun  1938-1942.  Kaum tua yang oleng Ir Soekarno disebut bigotedly orthodox, fanatik kolot.

Dengan upaya pendekatan dan pembujukan dengan orang-orang yang ditua-kan, para pembesar Bengkulu kala itu, Ir Sukarno berhasil niatnya untuk merenovasi Surau Gedang tua tersebut dan mengantikan namanya dengan Masjid Jamik yang sekarang dikenal.

Para murid Taman Siswa dan Muhammadiyah  dikerahkan dalam perenovasian secara bergotong-royong. Hasilnya hingga sekarang, Masjid Jamik tetap tegak dan masih berfaham kaum tua.

Sejak itulah nama ‘harum’ Daeng  Makulle  pendiri  cikal bakal Masjid Jamik raib ditelan bumi. Beberapa sumber menyebutkan, pada tahap awal berdirinya Masjid Surau Gedang atau Surau Bubungan Tinggi itu, beratap daun rumbia dan berdinding papan.

Oleh Ir Sukarno dirancanglah  mengunakan dinding tembok dan beratapkan seng, termasuk memperluas areal masjid. Bagian dinding surau ditinggikan dua meter, dan bagian lantai ditinggikan 30 Cm. Ir Sukarno  memberikan ciri khas di bagian atap, dengan membentuk atap limasan kerucut dengan memberikan celah pada pertengahan atap sebagai sentuhan arsitektur tersendiri. Pada beberapa bagian bangunan ditambah tiang dengan ukiran dan pahatan berbentuk sulur-sulur di bagian atasnya dan dicat dengan warna emas.

Meragukan

Penulis juga meragukan pendapat yang mengatakan  bahwa “Awalnya surau itu dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya. Namun kemudian masjid tersebut dipindahkan ke lokasinya sekarang ini di Jalan Jend Soeprapto, Kota Bengkulu”.

Pendapat itu terasa ‘mengada-ada’. Jarak Kampung Bajak ke lokasi  Masjid jamik itu relatif jauh.  Pemindahan masjid pada abad ke-18 itu, seolah-olah kala itu daerah Kampung Bajak banyak penghuni, sesak hingga sebuah surau harus dipindahkan. Padahal pertengahan abad 18 itu, negeri Benkoelen ini masig relatif lenggang.

Kini areal lokasi masjid Jamik yang salah satu situ bersejarah bagi Provnsi Bengkulu ini, arelanya tidak seluas dulu lagi. Akibat pembangunan jalan dan beberapa renovasi, penambahan yang dilakukan  pemerintah Bengkulu ditahun 2000-an, membuat areal masjid mengecil, dijepit dua sisi badan jalan.

Hingga kini masyarakat luas mengenal  Masjid Jamik  merupakan  masjid yang direnovasi oleh Ir Soekarno. Nama Daeng Makulle senyap. Mungkinkah karena nama Daeng Makulle tak punya nilai jasa, hingga tak tergaung dipermukaan? Paling tidak, kita jangan melupakan sejarah. Jangan sampai pemeo terungkit,  “Kambing Punya Susu, Sapi Punya Nama”.

 

Pemerhati Sejarah dan Budaya tinggal di Bengkulu

Loading...
Loading...