Bengkulu Dalam Sejarah Bagian Pertama

Bengkulu Dalam Lintasan Sejarah
Phamnalä-yë
(Phamnalä-yë atau Phamnalä-yu)

Penulis : Hakim Benardie (Bagian Pertama)

Loading...
peta pada abad ke 16
peta pada abad ke 16

Kata “Indonesia” diambil dari terjemahan bahasa Eropa, yaitu kata INDUS + NESOS (INDUS berarti Hindhustan, dan kata NESOS berarti Pulau). Kata NESOS berasal dari akar kata yang merupakan pinjaman dari bahasa Sangsekerta (India), yaitu kata Nusa. Wilayah yang terbentang melingkar di Chattulistiwa ini pernah pula disebut oleh bangsa asing dengan istilah “Insulinde”, artinya “Pulau-pulau disebelah timur Indus (Insula = Pulau, Hindhustan)”.
A. Indonesia
Indonesia merupakan gugusan kepulauan (Archipelago). Wilayah yang terletak pada topografi 6 derajat Lintang Utara, dan 11 derajat Lintang Selatan, 95 derajat Bujur Timur serta 141 derajat Bujur Timur, memiliki potensi perairan laut seluas 5,8 juta km2, terdiri dari 0,3 juta km2 teritorial (teritorial sea), 2,8 juta km2 perairan Nusantara (Archipelagic Waters), 2,7 juta km2 sebagai Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Terbentang sepanjang 81.000 km yang terdiri dari ± 19.846 buah pulau, baik yang berpenghuni maupun tidak, dengan 50 buah selat dan 64 buah teluk. Luas perairan tersebut, belum termasuk landasan kontinen (Continental Shelf). Indonesia menempati urutan keempat jumlah penduduk terbanyak di dunia (Cina, India, Amerika dan Indonesia).
Selain perairan laut, negeri ini juga mempunyai perairan darat dengan 4.873 sungai, seluas 12 juta hektar, dan 40 juta hektar hutan rawa, dengan keanekaragaman sumber daya alam perikanan ± 7.000 species ikan, dan ± 324 species burung, dengan 125 gunung berapi aktif.
Selain itu, laut Indonesia tersimpan berbagai potensi sumber daya alam yang sangat kaya akan mineral, hayati maupun non hayati, serta memiliki letak yang sangat strategis. Letak geografis yang strategis dan sumberdaya alam yang berlimpah ini, dapat dijadikan tumpuan masa depan anak bangsa Indonesia, jika teritotial kelautan dan maritim dapat dikelola dengan baik dan benar. Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, ZEE Indonesia menduduki peringkat pertama. Artinya Indonesia memiliki ZEE yang paling luas.
Negeri Indonesia juga pernah disebut dengan kata Antara – Nusa (Nusantara), Jabadhiou atau Javadhvipha, sebagai mana nama negeri yang pernah diperintahkan Nabi Sulaiman as kepada pelaut Phoenisia (600 sM), untuk mencari emas ke-negeri yang kaya itu. Negeri ini dikenal pula dengan sebutan nama Pha-Limbham atau Lu-Shiangshe, nama negeri yang terdapat di Provinsi Banten dan Provinsi Bengkulu. Kata Indonesia pertama kali digunakan oleh J R Logan seorang peneliti Belanda tahun 1848. Sementara A. Bastian memakai kata itu tahun 1884. Selanjutnya kata itu populer dikalangan Antropologi Belanda dan bangsa Eropa lainnya.
Kata “Indonesia” diambil dari terjemahan bahasa Eropa, yaitu kata INDUS + NESOS (INDUS berarti Hindhustan, dan kata NESOS berarti Pulau). Kata NESOS berasal dari akar kata yang merupakan pinjaman dari bahasa Sangsekerta (India), yaitu kata Nusa. Wilayah yang terbentang melingkar di Chattulistiwa ini pernah pula disebut oleh bangsa asing dengan istilah “Insulinde”, artinya “Pulau-pulau disebelah timur Indus (Insula = Pulau, Hindhustan)”.
Sebutan nama Nusa yang dipakai oleh para pedagang, penyebaran agama Hinddhu, Bhuddha dan Islam yang datang ke Archipelago ini, untuk pertama kali dipakai di Tarumanagara pada awal abad ke- 2 Masehi, yang menceritakan tentang adanya negeri Nusa-Larang (Tanah Larangan) di Phalimbham dan Phanaitan (Provinsi Benten sekarang), oleh dinasti Purana atau Purnawarman. Selain itu kronik-kronik Arab, India dan Cina juga menyebut negeri ini dengan istilah Pha-Mnalä-yë atau Pha-Mnalä-yu (Kepulauan bagaikan untaian tasbih), yang sekarang kita hanya mengenalnya dengan istilah Mnalä-yë atau Malayu.
Pedagang Arab dan India yang menyebut negeri ini dengan istilah Jabadhiou atau Javadhvipha. Yang dimaksud adalah sebutan bagi dua pulau yaitu Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kata Java atau Jawa itu hanya untuk menunjukkan satu pulau di Nusantara, yaitu Pulau Jawa yang ada sekarang.
Selain itu ada pula yang menyebutnya dengan “Pulau Harapan” atau dengan kata “Samudera” (Kata Samudera adalah sebutan bagi negeri yang berada diseberang lautan Arab dan India, yaitu Indonesia ini). Namun ada juga yang menyebutkannya dengan “Malay Archipelago” dan “Indian Archipelago”.

Bangsa Cina menyebut Indonesia dengan nama negeri yang mereka kenal semasa itu, yakni dengan kata “Lu-Shiangshe” (Bengkulu), “Molo-yeu” (Wilayah kekuasaan kerajaan Sakai Riau dan Jambi, 644 M), “Criviyaya” (Sriwiyaya) dengan sebutan Kin Li-p’I-Che, Che-Lifo-che, atau Sanf-t’sio. Sedangkan kerajaan Tulang Bawang mereka sebut dengan kata To-lung P’o-hwang.
Negeri lain yang mereka (Bangsa Cina) kenal adalah Muo (Mauk, Tangerang Provinsi Banten), Chalava (Kalapa, Jakarta sekarang), Phalimbham (Desa Panimbang Banten), To-lo-mo (Tarumanagara, Jakarta sekarang), dan banyak lagi lainnya. Jadi dalam bahasa Cina tidak ditemukan kata khusus yang menyebutkan Indonesia, sebagai mana juga bangsa Cina menyebut Laut Cina Selatan dengan istilah “Nan Yang” atau “Nan Hai”, dan bangsa Jepang menyebutnya dengan istilah “Nanyo”.
Nama-nama yang menunjukkan negeri Nusantara itu sangat penting, untuk diungkapkan kembali, agar tidak terjadi berbagai kerancuan dalam menyebutkan tempat atau wilayah daerah di Nusantara ini. Karena beragamnya istilah yang dipakai dalam berbagai kronik-kronik dan naskah kuno untuk menunjukkan suatu tempat, dalam catatan perjalanan atau pelayaran. Istilah-istilah itu sudah digunakan sejak 400 sM hingga abad ke- 18 M.q

Loading...
Loading...