Bengkulu Dalam Lintasan Sejarah Phamnalä-yë (Phamnalä-yë atau Phamnalä-yu)

Penulis : Hakim Benardie (Bagian kedua)

Dalam sejarah Indonesia, tidak hanya kata Pha-Mnalä-yë atau Pha-Mnalä-yu saja yang diselewengkan atau disalah artikan. Kata Pha-Mnalä-yë Criviyaya juga sering ditulis dengan kata Phamalayu Sriwijaya. Dua kata ini memiliki arti yang berbeda, kata Criviyaya berarti negeri yang cantik atau indah dan kaya (makmur), atau yang sering juga disebut orang dengan istilah “Gemah ripah loh jinawi“.

Loading...

B. Pha-Mnalä-yu
Kerajaan-kerajaan tertua di Pulau Sumatera umumnya menyebutkan dirinya sebagai kerajaan Pha-Mnalä-yë atau Pha-Mnalä-yu, sejak tahun 10 sebelum Masehi (sM), hingga abad ke-15 M. Istilah Pha-Mnalä-yu yang juga disingung-singung oleh Prapanca dalam syair Nagarakartagama tahun 1365 M. Lantas mengapa kerajaan-kerajaan di Sumatera menggunakan kata Phamalayu?
Sebelum menyebut nama kerajaannya dan sebagai contoh, dapat kita lihat pada nama Kerajaan Pha-mnalä-yë Criviyaya, Pha-mnalä-yë Cri Indrapura, Pha-mnalä-yë Tulang Bawang, dan hanya negeri / kerajaan Bengkulu Lu-Shiangshe (264 –195 sM) saja yang tidak memakai atau menggunakan kata Pha-Mnalä-yë didepan kata Lu-Shiangshe.
Kata “Malayu” diambil dari akar kata Mnalä-yë. Dalam bahasa Ayodhya atau Ayoda artinya buah tasbih. Ayodhya adalah sebuah kota yang terletak di Utara Pradesh Tengah bagian Timur India. Kota inilah yang disebut-sebut dalam syair Ramayana sebagai negeri keramatnya umat Hinddhu.
Kata Mnalä-yë itu selanjutnya mendapat imbuhan kata Pha, yang diambil (pinjam) dari bahasa Hyunan Kuno (Cina Daratan). Pha artinya pulau atau daratan atau sawah, atau hari kedelapan. Dengan demikian kata itu sempurna menjadi kata Pha-Mnalä-yë atau Pha-Mnalä-yu, yang jika diterjemahkan secara bebas berarti “Gugusan Pulau Bagaikan Untaian Tasbih” .
Tasbih yang dimaksud adalah salah satu alat yang sering digunakan dalam peribadatan pendeta umat Hinddhu, dan kata inilah yang menjadi perumpamaan pada kata Nusa – Antara atau Antara – Nusa yang kita kenal sekarang dengan kata Nusantara atau Indonesia tercinta yang dijadikan sebagai Negara Kesatuan Kepulauan (Archipelagic State).
Dalam sejarah Indonesia, tidak hanya kata Pha-Mnalä-yë atau Pha-Mnalä-yu saja yang diselewengkan atau disalah artikan. Tetapi kata Pha-Mnalä-yë Criviyaya juga sering ditulis dengan kata Phamalayu Sriwijaya. Dua kata ini memiliki arti yang berbeda, kata Criviyaya berarti negeri yang cantik atau indah dan kaya (makmur), atau yang sering juga disebut orang dengan istilah “Gemah ripah loh jinawi“.

Untuk kata Sriwijaya (Criwijaya) berarti negeri yang cantik atau indah dan kuat (Kuat angkatan perangnya). Kata Jaya berarti sukses, berhasil atau menang. Sebagai contoh dalam kalimat sebagai berikut: Kerajaan Tarumanagara berjaya menaklukan Pha-Mnalä-yë Criviyaya pada tahun 683 M. Contoh lainnya : , Maharajadiraja Pha-Mnalä-yë Cri Indrapurĕ Adityawarman melumatkan (Luluh lantak) Pha-Mnalä-yë Criviyaya pada tahun 1357, 1377 M.

lukisan kapal benda jaman ksultanan Banten
lukisan kapal benda jaman ksultanan Banten

Kata Jaya ini pertama kali dipakai oleh pelaut (Angkatan Laut Kerajaan Tarumanagara) pada tahun 683 M, sewaktu menyerang Kerajaan Pha-Mnalä-yë Criviyaya. Kata itu ditulis diatas sepotong kayu huruf Pallawa bahasa Sangskerta pada perahu layar / Jung (Kapal Perang) Tarumanagara, berbunyi kata “Jälešveva Jayämahě“. Terjemahan bebasnya adalah “Dilaut Kita Jaya“. Maksud kata-kata ini sebenarnya adalah “Tidak ada lautan yang tidak dapat ditaklukkan / ditempuh / dilayari, dan tidak ada nagari yang tidak dapat dicapai“. Inti dari kalimat itu adalah harus berhasil dan menang.
Kata-kata ini tetap dipakai oleh pelaut-pelaut Sriwiyaya pada Jong-jong abad ke-8 hingga 11 M, juga pada perahu-perahu Kerajaan Kalingga (Kalingä) dalam abad yang sama. Bahkan kata-kata Jälešveva Jayämahě yang merupakan falsafah Hinddhu ini, ada pula yang menuliskannya untuk dijadikan azimat pada kalung dan Tato.
Namun kedua kata ini terlanjur telah dirancukan oleh anak bangsa yang mengklaim diri sebagai orang modern, guna mengejar keuntungan materi sebesar-besarnya, dengan mengorbankan kebenaran fakta sejarah anak negeri. Persepsi keliru itu disambut dan berkembang menjadi “Pelestarian Kerancuan Sejarah Indonesia“. Inilah salah satu penyebab mengapa banyak peneliti asing yang meragukan sumber-sumber dan keaslian “Sejarah Bangsa Indonesia“.q

Loading...
Loading...